Rabu, 12 September 2012

PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA INDONESIA DALAM ERA GLOBALISASI MELALUI PENDIDIKAN


PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA INDONESIA
DALAM ERA GLOBALISASI MELALUI PENDIDIKAN

Ayu Agustria R.

Abstrak: Era globalisasi membuka mata kita untuk melihat ke masa depan yang penuh dengan tantangan dan persaingan. Untuk menghadapi era globalisasi yang menuntut sumber daya manusia yang berkualitas inilah maka peranan pendidikan perlu mendapat perhatian seksama. Pendidikan berkelanjutan (S2/S3) merupakan salah satu alternatif dalam peningkatan kualitas SDM. Untuk meningkatkan kualitas pendidikan guna mengembangkan sumber daya manusia terlebih dahulu harus ada pengelolaan SDM dalam proses pendidikan. Pengelolaan SDM dapat dilakukan misalnya dengan cara: (1)mengidentifikasi skill dan kualitas SDM yang serasi dengan tuntutan lingkungan,(2) memilih SDM yang memiliki kinerja tinggi dan potensial, (3)berusaha memenuhi kebutuhan organisasi dan individu, (4) menilai kinerja dan keahlian SDM, (5) memberi kompensasi yang memadai kepada tenaga yang terampil dan memiliki keahlian, (6) membangun lingkungan kerja yang baik, (8) meningkatkan motivasi untuk perbaikan kinerja.
Kata Kunci: pengembangan sumber daya manusia, era globalisasi, dan pendidikan

Abstract: The era of globalization opens our eyes to see into the future that is full of challenges and competitions. To face the globalization era that demands qualified human resources, thus, the role of education needs a careful attention. Continuing education (S2/S3) is one alternative in improving the quality of human resources. To improve the quality of education to develop human resources, it is necessary to have prior HR management in the education process. HR management can be done for example by way of: (1) identifying the skills and quality of human resources that match the demands of the environment, (2) selecting human resources that have high performance and potency, (3) trying to meet the needs of organizations and individuals, (4) assessing the performance and HR expertise, (5) providing adequate compensation to the skilled manpower and expertise, (6) establishing a good working environment, (8) increasing motivation for performance improving.
Keywords: human resource development, the era of globalization, and education


LATAR BELAKANG MASALAH
Pembangunan pendidikan merupakan bagian dari upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia. Dalam kerangka ini pembangunan pendidikan harus semakin tanggap terhadap berbagai perubahan yang terjadi, mampu mengantisipasi ke masa depan dan mampu memanfaatkan berbagai peluang yang ada. Untuk itu peran pendidikan khususnya pendidikan dasar dan menengah perlu mendapat perhatian seksama yang pada saat ini dihadapkan kepada era globalisasi.
Era globalisasi membuka mata kita untuk melihat ke masa depan yang penuh dengan tantangan dan persaingan. Era kesejagatan yang tidak dibatasi waktu dan tempat membuat sumber daya manusia yang ada selalu ingin meningkatkan kualitas dirinya agar tidak tertinggal dari yang lain.
Untuk menghadapi era globalisasi yang menuntut sumber daya manusia yang berkulaitas inilah maka peran pendidikan, khususnya pendidikan dasar dan menengah, perlu mendapat perhatian seksama.
Adapan tujuan disusunnya makalah ini adalah untuk mengemukakan dan menjelaskan beberapa masalah dan pemecahannya  mengenai pengembangan sumber daya manusia Indonesia dalam era globalisasi.

PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA INDONESIA DALAM ERA GLOBALISASI MELALUI PENDIDIKAN
Dalam menghadapi era globalisasi, berbagai upaya perlu dilakukan untuk mewujudkan kualitas SDM. Pendidikan merupakan salah satu upaya utama untuk mengimplikasikan keinginan tersebut. Namun hal ini juga memerlukan waktu yang cukup lama dan biaya yang besar.
Di Indonesia sendiri, tingkat pendidikan penduduknya masih rendah. Tercatat pada tahun 2006 masih ada 12,8 juta atau 8,07% penduduk yang buta aksara. Tetapi sebenarnya pemerintah sudah melakukan berbagai upaya untuk menuntaskan penduduk yang buta aksara. Hal ini dapat dilihat dari penurunan angka penduduk buta aksara pada tahun 2008 menjadi 9,7 juta atau 5,97%. Dan pemerintah terus berupaya agar angka penduduk buta aksara dapat turun 1,7 juta atau 2% setiap tahunnya.
Di Indonesia sendiri dari jumlah penduduk 237.556.363 hanya 35.977.448 penduduk yang mengenyam pendidikan dasar, jadi hanya 15,2 % penduduk Indonesia yang sudah melaksanakan wajib belajar Sembilan tahun. Sedangkan penduduk Indonesia yang mengenyam pendidikan sampai ke perguruan tinggi hanya 997.531 atau 0,4% saja. (www.kemendiknas.go.id). Dari data tersebut tampak jelas bahwa penduduk Indonesia masih sangat sedikit sekali yang memperhatikan pendidikan. Hal ini mungkin dikarenakan fasilitas pendidikan yang tidak merata, tingkat ekonomi yang rendah, dll.   
Seperti sudah dikatakan di awal bahwa pendidikan adalah salah satu sarana untuk meningkatkan kualitas SDM. Untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi penyelenggaraan pendidikan, perlu ditingkatkan kualitas manajemen sistem pendidikan. Menurut Engkoswara (2001: 5) menyebutkan bahwa manajemen sistem pendidikan yang diharapkan menghasilkan pendidikan yang produktif, yaitu efektif dan efisien, memerlukan analisis kebudayaan atau nilai- nilai dan gagasan vital dalam berbagai dimensi kehidupan yang berlaku untuk kurun waktu yang cukup di mana manusia hidup.
Pendidikan sampai saat ini dianggap sebagai unsur utama dalam pengembangan SDM. SDM lebih bernilai jika memiliki sikap, perilaku, wawasan, kemampuan, keahlian serta keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan berbagai bidang dan sector. Pendidikan merupakan salah satu alat untuk menghasilkan perubahan pada diri manusia. Manusia akan dapat mengetahui segala sesuatu yang tidak atau belum diketahui sebelumnya. Pendidikan merupakan hak seluruh umat manusia. Hak untuk memperoleh pendidikan harus diikuti oleh kesempatan dan kemampuan serta kemauan dari masing individu sendiri. Dengan demikian, dapat dilihat dengan jelas bahwa betapa pentingnya pendidikan dalam meningkatkan kualitas SDM agar sejajar dengan manusia lain, baik secara regional (otonomi daerah), nasional, maupun internasional (global).
Tinggi rendahnya kualitas SDM antara lain ditandai dengan adanya unsur kreativitas dan produktivitas yang direalisasikan dengan hasil kerja atau kinerja yang baik secara perorangan atau kelompok. Masalah ini akan dapat diatasi apabila SDM mampu menampilkan hasil kerja produktif secara rasional dan memiliki pengetahuan, keterampilan dan kemampuan yang umumnya dapat diperoleh melalui pendidikan. Dengan demikian, pendidikan merupakan salah satu solusi untuk meningkatkan kualitas SDM.
Program peningkatan kualitas SDM melalui pendidikan akan memberi manfaat pada organisasi berupa produktivitas, moral, efisiensi, efektivitas, dan stabilitas organisasi dalam mengantisipasi lingkungan, baik dari dalam maupun ke luar organisasi yang selalu berubah mengikuti perkembangan zaman. Perencanaan SDM yang berkualitas, dalam Malaysia’s 2020 (1995) sebagaimana dikutip oleh Kartadinata (1997: 7) merumuskan beberapa kecenderungan yang terjadi dalam pengembangan kualitas SDM. Kecenderungan tersebut adalah:
1.      Dibandingkan dengan dasawarsa 1970-an dan 1980-an, tiga dasawarsa mendatang diperkirakan akan terjadi eksplosi yang hebat, terutama yang menyangkut teknologi informasi dan bioteknologi. Dalam konteks peningkatan kualitas SDM, implikasi yang dapat diangkat adalah para ilmuwan harus bekerja dalam pendekatan multidisipliner dan adanya program pendidikan berkelanjutan (S2/S3),
2.      Eksplosi teknologi komunikasi yang semakin canggih dapat mempersingkat jarak dan mempercepat perjalanan. Hal ini akan membuat bangsa yang mempunyai kemampuan dan pengetahuan yang relvan dan menguasai teknologi baru secara substantive mampu meningkatklan produktivitasnya.
Hasil pemikiran di atas menghadapkan kita pada arah, tantangan, dan tuntutan umum pendidikan dalam kehidupan era globalisasi sebagai masa depan suatu lembaga.
Beberapa organisasi di negara maju telah menunjukkan keberhasilan dengan menggunakan praktek pengelolaan SDM yang efektif melalui cara peningkatan keterampilan dan keahlian SDM organisasi. Beberapa praktek yang telah dikembangkan lembaga pendidikan di Eropa adalah:
1.      Mengidentifikasi skill dan kualitas SDM yang serasi dengan tuntutan lingkungan,
2.      Memilih SDM yang memiliki kinerja tinggi dan potensial,
3.      Berusaha memenuhi kebutuhan organisasi dan individu,
4.      Menilai kinerja dan keahlian SDM,
5.      Memberi kompensasi yang memadai kepada tenaga yang terampil dan memiliki keahlian,
6.      Membangun lingkungan kerja yang baik,
7.      Meningkatkan motivasi untuk perbaikan kinerja.
Praktek pengelolaan SDM tersebut menunjukkan bahwa dunia kerja masa kini dan yang akan datang telah mengalami perubahan. Peran SDM dalam organisasi mempunyai arti yang sama pentingnya dengan pekerjaan itu sendiri sehingga interaksi antara organisasi dan SDM menjadi fokus perhatian para manajer. Oleh sebab itu nilai- nilai (values) baru yang sesuai dengan tuntutan lingkungan organisasi perlu diperkenalkan dan disosialisasikan kepada semua individu di dalam organisasi.
Praktek pengelolaan SDM ini dapat diterapkan dalam proses pendidikan untuk meningkatakan kualitas tenaga pendidik sehingga nantinya akan terpilih tenaga- tenaga pendidik yang benar- benar profesional. Dengan adanya tenaga pendidik yang profesional dengan sendirinya kualitas pendidikan akan semakin baik dan selanjutnya akan berimbas pada meningkatnya kualitas SDM.
Pendidikan di Indonesia saat ini menghadapi dua tuntutan sekaligus. Pertama ialah tuntutan masyarakat terhadap mutu pendidikan di Indonesia yang masih rendah dan belum relevan dengan tuntutan perkembangan masyarakat sejalan dengan itu pendidikan nasional sekaligus menghadapi masalah memasuki era globalisasi. Di dalam konteks ini, kemampuan bangsa Indonesia belum memadai di dalam rangka kerja sama dan juga persaingan dengan bangsa- bangsa lain. Kedua problem yang besar ini sekaligus harus dapat diatasi dalam rangka untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia.
Dunia global dengan pasar bebasnya memunculkan berbagai potensi bagi individu kreatif. Di dalam dunia yang terbuka, sekaligus diperlukan dua sifat yang saling berkaitan yaitu dapat bekerja sama dan bersaing. Dengan demikian para profesional dalam era globalisasi ini adalah para ahli dalam bidangnya tetapi juga yang dapat bekerja sama sehingga dapat menghasilkan produk- produk yang lebih bermutu. Dengan hasil kerja sama tersebut maka produknya dengan sendirinya mempunyai daya saing yang tinggi. Saat ini kurikulum pendidikan tinggi belum banyak diarahkan kepada peningkatan potensi kerja sama apalagi persaingan. Kurikulum pendidikan tinggi di Indonesia saat ini tersusun dengan orientasi kepada individualism atau pengembangan perorangan. Kelemahan dari proses dan program yang demikian adalah dapat saja mengembangkan individu, namun belum tentu kemampuan tersebut mempunyai nilai tinggi karena belum teruji dengan persaingan. Selanjutnya, program pendidikan tinggi di Indonesia saat ini masih sangat individualistis, belum memungkinkan adanya kerja sama antara mahasiswa dengan mahasiswa dan antara mahasiswa dengan dosennya.
Masalah- masalah dalam dunia pendidikan ini dapat diatasi dengan pengelolaan SDM seperti yang telah tersebut sebelumnya sehingga akan memunculkan tenaga- tenaga ahli yang profesional di bidangnya. Dengan adanya tenaga ahli yang profesional di bidangnya maka produk yang akan dihasilkan akan mempunyai nilai saing yang tinggi dan hal ini tentunya akan meningkatkan taraf hidup bangsa Indonesia.

PENUTUP
SDM merupakan suatu topik yang tak pernah habis dibicarakan. Secanggih apapun teknologi yang dihasilkan, SDM-lah yang memegang peranan penting. Oleh karena itu, peningkatan kualitas SDM merupakan suatu kebutuhan yang mendesak menuju era globalisasi.
Pendidikan berkelanjutan (S2/S3) merupakan salah satu alternative dalam peningkatan kualitas SDM. Berbagai pendekatan perlu dilakukan agar peningkatan kualitas SDM ini terlaksana dengan baik dan cepat. Walaupun krisis ekonomi belum berlalu di negara Indonesia, ditambah dengan gejolak politik yang seakan- akan tak kunjung reda, kehidupan ini berjalan terus tanpa henti. Kebutuhan demi kebutuhan terus diperlukan, tidak terkecuali kebutuhan akan pendidikan. Dalam menghadapi masalah ini berbagai kebijakan telah diambil oleh pemerintah yang perlu disambut secara positif oleh SDM yang membutuhkan peningkatan kualitas dirinya dalam meneruskan kehidupannya. Tanpa kerja sama dua arah (pemerintah dan SDM) pengembangan SDM melalui pendidikan adalah suatu impian sulit untuk diwujudkan menjadi kenyataan.

DAFTAR PUSTAKA
id.wikipedia.org. 2010
www.kemendiknas.go.id. 2010. Statistik Pendidikan.
Engkoswara. 2001. Paradigma Manajemen Pendidikan Menyongsong Otonomi Daerah. Bandung: Yayasan Amal Keluarga
Kartadinata, Sunaryo. 1997. Pendidikan dan Pengembangan SDM Bermutu Memasuki Abad XXI. Purwokerto: Makalah Konvensi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar